Setengah Tahun ini dan Takdir Unik
Apa yang dapat dilakukan selama setengah tahun ini, ditemani virus corona yang mengusai bumi. Hanya rebahan santuy dan menikmati obrolan kelas online tanpa camera, dengan dosen yang selalu mengingatkan hafalan dan cacatan yang harus penuh terisi. Tugas-tugas menumpuk dalam memori maupun flashdisk, membuat resah tiap malam minggu apalagi malam kamis. Kouta maupun jaringan menjadi alasan abadi, kampus niat memberi namun tak pernah terisi.
Hari-hari dilalui berharap vaksin datang kemudian menyembuhkan, namun berubah menjadi teori konspirasi. Menonton media menyuguhkan berita tentang artis yang lupa menelpon pacarnya, kematian akibat corona yang menggila, goayangan tik tok, dan fitnah. Sampai tentang mensos yang korupsi bansos, tak lupa mentri yang menjual benih lobster.
Baru kali ini ku rindu masuk kampus, padahal dulu mager mengusai diri. Apakah ini pertanda mempunyai getaran cinta terhadap kampus, ataukah hanya bosan sendiri di rumah. Entahlah, mungkin ku ingin mengobrol dengan kawan tentang UKT sampai Kisah cinta yang di ceritakan tragis dan kandas. Semoga pandemi cepat usai.
Kau tak tahu kapan ini berakhir?
Sebab takdir itu unik
Kata seorang kawan yang merantau jauh ke pulau Sumatera, bertemu belahan jiwanya disana yang ternyata tetangganya di pasuruan. Menurutnya unik dibagi dalam tiga versi pertama takdir itu yang menentukan Allah, seperti kematian dan kehidupan. Kedua takdir itu tidak berulang dan berulang karena kuasa Allah. Ketiga takdir bisa datang karena diinginkan maupun tidak. Ucapan yang masih terngiang di otakku.
Untuk itu jangan pernah menyerah untuk bangkit dan berkarya, hidup cuman sekali. Sayang jika masih dibuat main-main diumur yang sudah remaja akhir. Seorang bijak pernah berkata "hidup ini cuman ada dua pilihan, menjadi pecundang atau pemenang" Dan ya cuman ada dua pilihan, silahkan memilih tanpa paksaan. Karena takdir itu unik.
Pelajaran setengah tahun ini
Dalam masa pandemi, mengajari banyak hal terutama tentang pentingnya keluarga. Aktifitas yang padat membuatku jarang pulang ke rumah, tak jarang ibu rindu menelpon lewat wa dan bertanya “nak kapan pulang?” tapi, sekarang di ubah pertanyaannya oleh tetangga menjadi “kapan bawa calon mantu?” kalimat yang membuatku diam seribu bahasa mengingat buat makalah aja masih copas kok sudah tanya calon mantu, apa mantu anda bisa dicopas?
Kedua mengajari tentang gaenaknya jadi pengangguran, padahal sebenarnya banyak aktifitas yang bisa menghasilkan uang. Dengan hanya menulis di website, jualan secara online, dll. Aktifitas seperti itu bisa meningkatkan kreatifitas, dan juga saldo ATM yang nihil. Tinggal kemauan dari diri sendiri mau apa tidak.
Ketiga, mengajari ku tentang prespektif masyarakat. Maksudnya? Masyarakat itu kebanyakan tidak kepo tentang kita yang mendapat gelar apa, tapi keponya itu tentang “apa pekerjaannya, berapa gajinya dan siapa calon istrinya?” makanya jangan bangga kalo gelarmu prof dll tapi pengangguran.
Keresahan
Rasa bosan dirumah ditambah tugas, hafalan dan deadlinenya membuat stress. Membuka media sosial pun serasa malas, karena beritanya yang ga penting tapi masih disiarkan setiap hari. Rindu kampus atau rindu dia, aku pun tak tau. Biar takdir yang menjawabnya.
Tetangga yang jail membuatku resah cari si dia, yang mau diajak bersama untuk menua. Rasa malas menjadi alasan pengangguran untuk berkarya maupun bekerja, seperti halnya saya. Pertanyaan tentang pekerjaan, gaji dan asmara membuatku resah tetapi hanya sementara.
Membuatku teringat meneruskan berkarya walaupun belum mendapatkan apa-apa, karena Tuhan tidak pernah menilai hasil tapi dari seberapa usaha.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusComent
BalasHapusSemangat sob
BalasHapus👍👍
HapusMantul jo
BalasHapus